Saturday, February 9, 2008

Rasisme di Olahraga






Dari Catatan Ringan

Arief Kurniawan


Rasis dan Rusuh, dua kata negatif yang kerap menyertai olahraga. Maknanya jelas berbeda, walau pemicunya bisa sama: tak bisa menerima kekalahan.

Spanyol tiba-tiba dibuat heboh lagi oleh kasus rasisme. Bila dulu dari arena sepakbola, kini dari arena F1. Tiga kasus rasisme di Spanyol datang dari lapangan hijau. Parahnya itu berkaitan dengan tim Matador.

Yang pertama tentu masih segar dalam ingatan, bagaimana pelatih Luis aragones pada medio 2004 mengatakan bahwa Reyes lebih baik dari rekan setimnya di Arsenal yang kebetulan pemain tersebut berkulit hitam. Walaupun kemudian Aragones minta maaf secara tidak langsung kepada Henry, tetap saja dikenai denda 3000 Euro.

Tak lama setelah itu, Tim Matador beruji dengan The Three Lions yang kala itu masih dilatih oleh Sven Eriksson. Ketika itu pada saat pertandingan berlangsung, pemain Inggris yang berkulit hitam seperti Ashley Cole dan Wright Phillips mendapat teriakan berbau rasisme dari tribun. Jelas saja Federasi sepakbola Inggris protes dan akhirnya Federasi sepakbola Spanyol pun didenda 44.750 pound.

Melengkapi kasus pelecehan warna kulit ini adalah Samuel Eto'o yang diteriaki pendukung tuan rumah tatkala Barcelona bertandang ke kandang Real Zaragoza, bahkan Eto'o sempat ingin tidak melanjutkan pertandingan.

Tiga kasus ini yang disinyalir mengakibatkan usaha Madrid untuk menjadi tuan rumah Olimpiade 2012 gagal. Mereka harus merelakan hak tersebut kepada London, sebuah harga mahal dari kejadian sepele tapi sangat menyayat hati itu.

Tak disangka kasus rasisme kembali muncul dari arena yang selama ini dianggap kebal sifat itu, F1. Ketika melakukan tes di Sirkuit Catalunya, Hamilton pembalap brilian asal Inggris yang berkulit hitam, "dibuatkan" spanduk yang bukan cuma mengejek, tapi juga sudah mengarah kepada pelecehan.

Bahkan, itu berlanjut di media-media Spanyol dengan tulisan-tulisan yang benar-benar tak bisa diterima akal sehat. Misalnya, maaf, mengilustrasikan Hamilton sebagai "hitam sialan" atau "sebaiknya anda berada dihutan bukan menyetir mobil F1". Keterlaluan, bukan?

Mereka umumnya kecewa karena menganggap selama menjadi teman Hamilton di McLaren, pahlawan mereka, Alonso, diperlakukan tidak fair. Perlakuan itu pula yang membuat Alonso hengkang dari McLaren.

FIA langsung mengancam keberadaan Spanyol bila mereka tak bisa mengendalikan para pendukungnya. Spanyol dan pihak pengelola sirkuit Catalunya langsung bergerak dan menyaring penonton yang akan datang ke trek.
Rasisme jelas harus hilang dari kehidupan apapun, bukan hanya olahraga. Kalau ada seseorang berprestasi, apapun wwarna kulitnya, ya harus dihargai. Beri dia atau mereka tepuk tangan.
Toh yang lebih baik, atau yang terbaik, mempunyai usaha lebih untuk menuju ke sana. Menerima kekalahan haruslah menjadi hal biasa.

No comments: