Saturday, March 29, 2008

Seperti kebanyakan tradisi pascalomba, para pembalap biasanya diizinkan tim masing-masing untuk melakukan refreshing. Selepas GP F-1 Malaysia, Minggu (23/3), Ananda Mikola bertemu Lewis Hamilton di salah satu bar di Kuala Lumpur.

Hamilton dan Ananda, melepas penat. Menurut Ananda, pertemuan itu tak disengaja. “Saya ditelepon teman saya, Tonio Liuzzi (test driver Force India), yang mengajak makan malam. Setelah itu datang Adrian Sutil sebagai sesama mantan pembalap A1GP dan ternyata Hamilton juga bergabung,” kata Ananda. Mereka pun jadinya malah melepaskan penat di Luna Bar. “Hamilton banyak bercerita soal masa lalunya yang sering membeli karburator di Bologna ketika masih aktif balapan gokart,” kata Ananda. Semasa mengikuti balapan F-3 Italia, Ananda memang tinggal di Bologna. Cerita yang lain, maaf, kata Ananda, off-the-record. (Bolanews.com)

Monday, February 18, 2008

Tetap Cinta Sepakbola

Sebelum menekuni dunia otomotif, Lewis Hamilton (23) sudah menyukai sepakbola. Bahkan ketika masih belia ia sempat memperkuat kesebelasan sekolahnya bersama pemain Asto Villa, Ashley Young (22).


"Saya sebenarnya suka bermain sepakbola, saya menempati posisi gelandang dan kerap menyulitkan pihak lawan dengan tekel-tekel saya." ungkap The Britis Kid seperti dilansir situs The Mirror.

"Satu-satunya masalah saya adalah karena kepala saya yang lebih sering menunduk dan melihat ke arah bola ketimbang memperhatikan kemana saya bergerak. akibatnya saya selalu menabrak pemain lain," lanjut pembalap F1 dengan nama lengkap Lewis Carl Davidson Hamilton tersebut.

Walau gagal gagal menjadi pesepakbola profesional, Hamilton tetap mengikuti perkembangan salah satu olahraga kegemarannya tersebut. Terutama jika menyinggung sepak terjang klub kesayangannya, The Gunners Arsenal.

Thursday, February 14, 2008

Honda tutup malu dengan Optimistis

Kalau ada tim yang selalu optimistis dalam menyikapi setiap hasil, satu-satunya adalah Honda. Optimisme yang diberikan Honda, baik oleh pembalap atau siapapun di tim sialnya kerap terkesan terlalu textbook. Ditengah hasil yang sangat buruk pun, tim ini masih memberikan komentar positif.

Sikap seperti ini sekali lagi terulang pada saat menyikapi hasil tes hari pertama di Jerez, Honda hanya mampu menduduki peringkat 12 lewat catatan tercepat Barricello dan bahkan Wurz yang notabene sebagai pembalap veteran hanya berada diposisi bontot.

"Yang utama paket Aero Honda untuk mobil baru ini sudah jauh lebih baik dari mobil musim lalu, kami memang terlambat meluncurkan mobil karena ingin memaksimalkan hasil pengujian di Wind Tunnel." ucap mantan tandem sang legenda Michael Schumacher.
Mobil Honda musim lalu diangggap gagal karena performa di trek tidak mencerminkan hasil yang diberikan dari pengujian di Wind Tunnel. Mobil jadi sulit dikendalikan, baik oleh Rubens, maupun oleh Jenson Button.
Sejak mengambil alih kepemilikan dari British American Tobacco pada akhir musim 2005, tim ini didukung dana besar dari pabrikan Honda. Nama besar Honda di F1 yang harum pada pertengahan dekade 80-an, seperti tidak meninggalkan jejak. personil tim pun datang dan pergi. Musim ini kedatangan personil baru yang jebolan dari Ferrari, Ross Brawn. Akankah membawa hasil?, sulit ditebak. tetapi cara tim ini melontarkan komentar justru akan lebih mudah ditebak.

Saturday, February 9, 2008

Schumi jadi Bos Tim

Hasrat Michael Schumacher terhadap motorsport rupanya tidak pernah surut. Meski sudah setahun pensiun dari F1, ia masih melakukan banyak aktivitas di seputar motorsport. Kali ini ia malah diberitakan telah menjadi bos tim balap. Tim tersebut adalah tim karting yang dibangunnya bersama dua temannya, Peter Kaiser dan Thomas Muchov. Tim tersebut diberi nama KSM Motorsport. Tim tersebut akan ikut berlaga di kejurnas karting Jerman. Rupanya mempunyai tim karting sendiri adalah cita-cita lama Schumacher, bahkan jauh sebelum ia sukses di ajang F1, yang melambungkan namanya.
“Saya masih mengendarai kart dengan hasrat tinggi. Di sanalah saya tumbuh. Saya merasa berutang segalanya pada karting. Bahkan sejak saya kecil, saat F1 masih jauh, saya sudah berpikir bahwa suatu saat akan bekerja di karting. Membentuk tim bersama teman-teman saya adalah hal yang selalu saya bayangkan,” ucapnya. Schumacher memang tidak asal berkomentar. Jauh sebelum ia membuat KSM Motorsport, ia sudah lebih lebih dulu memiliki Michael Schumacher Kart Bahn, sebuah pusat karting yang dibangun di dekat kampung halamannya, Kerpen. Yang menarik adalah salah satu pembalap yang akan menjadi pembalap KSM Motorsport adalah Carlos Sainz Jr. Tidak perlu ditanya lagi, anak tersebut memang anak juara dunia Reli dua kali asal Spanyol, Carlos Sainz.

Versailles, Gantikan Magny Cours ?

Musim ini dipastikan bakal menjadi sejarah baru bagi F1. Untuk pertama kalinya, ada tiga seri GP F1 yang akan digelar di sirkuit jalan raya. Monako pasti karena merupakan salah satu legenda F1. Dua yang lain adalah Singapura dan Valencia (yang akan memakai nama GP Eropa). Versailles akan menjadi yang keempat? GP Prancis di Sirkuit Magny-Cours sudah sejak musim 1991 rutin menggelar GP F1. Namun, belakangan sirkuit seri ini terancam dicoret menyusul masuknya sirkuit-sirkuit baru. Wali Kota Versailles, Etienne Pinte, langsung membuka rencana besar, yaitu menjadikan Versailles sebagai tuan rumah F1. Rencana ini bahkan dijadikan senjata kampanyenya dalam pemilihan wali kota yang akan datang. Salah satu yang melatarbelakangi keinginan Pinte adalah estimasi pendapatan yang bisa dikeruk Versailles jika menjadi tuan rumah F1, yaitu 70 juta euro, setara dengan setengah anggaran wilayah tersebut dalam setahun. Namun, belum-belum rencana ini sudah mendapat tentangan dari Menteri Kebudayaan, Christine Albanel. Rencana tersebut dianggap berbahaya karena digelar di tengah lokasi monumen historis yang dilindungi. Dari kalangan kiri, Catherine Nicolas menyebutkan bahwa tentangan tersebut absurd dan tak sejalan dengan pembangunan berkelanjutan yang mereka sepakati. “Saya piker Albanel kurang paham tentang motorsport. Di Monako, yang lokasinya justru lebih banyak bangunan bersejarah, tidak ada masalah,” sebut Pinte menanggapi pendapat Albanel. Keinginan Versailles menggelar F1 didukung Menteri Olahraga, Jean-Baptiste Marvaud, yang menyebutkan bahwa lokasi yang direncanakan cukup luas dan mampu menampung balapan F1.
Pinte sendiri sudah menyiapkan lokasi lain seandainya lokasi awal tidak bisa dipakai untuk F1. Pilihannya adalah di kawasan Satory, yang kini dipakai oleh Citroen Sport untuk melakukan tes. Prancis sendiri adalah salah satu penyelenggara “tua” F1. Sejak 1906 negara tersebut sudah menggelar banyak ajang balap mobil tak hanya F1 dengan tajuk GP Prancis. Beberapa sirkuit pernah menjadi tuan rumah, yaitu Montlhery, Reims, Rouen, Paul Ricard, Dijon-Prenois, dan saat ini Magny-Cours. Menggelar lomba F1 di jalan raya memang eksotis dan menjanjikan pendapatan yang luar biasa. Namun, banyak yang melupakan bahwa GP Monako selalu punya aura magis, bukan semata karena menggelar balap F1 di jalan raya. Aura magis itu justru karena lomba digelar di Monako

Pujian untuk FIA

Tanggapan FIA atas kasus rasisme pertama di F-1 yang menimpa Lewis Hamilton langsung mendapat respons positif dari komunitas antirasis. Pujian pun dialamatkan kepada induk organisasi kendaraan bermotor dunia tersebut sebagai salah satu contoh organisasi yang mampu bertindak tegas terhadap kasus seperti itu. Kelompok antirasis yang dikenal luas di lingkungan sepakbola, 'Kick it Out, Let's Kick Racism Out of Football', mendukung penuh tindakan FIA terhadap kasus rasisme.

Perlu diketahui, FIA mengancam otoritas motorsport Spanyol, RFEA, dengan tindakan tegas membatalkan dua seri GP F-1 di negara tersebut, GP Spanyol dan GP Valencia, jika kasus rasisme terjadi lagi di negara tersebut. “Pernyataan FIA menunjukkan tindakan yang memang dibutuhkan. Kami butuh organisasi yang bisa bersuara keras terhadap kasus seperti ini,” ujar direktur kampanye kelompok tersebut, Piara Power, kepada majalah Autosport. Menurut Power, kesuksesan yang dicapai kelompoknya dalam upaya memberantas perlakuan rasis di lingkungan sepakbola lebih karena para penggemar mengawasi sendiri perilaku mereka dan terhadap penggemar lain. Namun, pernyataan keras FIA dianggapnya bisa membantu upaya menumpas rasisme di F-1. “Kami datang dari lingkungan sepakbola, di mana pemain kulit hitam dilecehkan karena latar belakangnya. Kami melihat fan kini justru mengawasi fan lain. Itulah cara paling efektif untuk mendidik penggemar,” katanya. Power menilai peristiwa yang terjadi di Barcelona adalah perilaku yang ditularkan dari sepakbola. Di beberapa wilayah selatan Eropa, rasisme dianggap hal biasa, seperti yang kerap terjadi di sepakbola Spanyol.

Rasisme di Olahraga






Dari Catatan Ringan

Arief Kurniawan


Rasis dan Rusuh, dua kata negatif yang kerap menyertai olahraga. Maknanya jelas berbeda, walau pemicunya bisa sama: tak bisa menerima kekalahan.

Spanyol tiba-tiba dibuat heboh lagi oleh kasus rasisme. Bila dulu dari arena sepakbola, kini dari arena F1. Tiga kasus rasisme di Spanyol datang dari lapangan hijau. Parahnya itu berkaitan dengan tim Matador.

Yang pertama tentu masih segar dalam ingatan, bagaimana pelatih Luis aragones pada medio 2004 mengatakan bahwa Reyes lebih baik dari rekan setimnya di Arsenal yang kebetulan pemain tersebut berkulit hitam. Walaupun kemudian Aragones minta maaf secara tidak langsung kepada Henry, tetap saja dikenai denda 3000 Euro.

Tak lama setelah itu, Tim Matador beruji dengan The Three Lions yang kala itu masih dilatih oleh Sven Eriksson. Ketika itu pada saat pertandingan berlangsung, pemain Inggris yang berkulit hitam seperti Ashley Cole dan Wright Phillips mendapat teriakan berbau rasisme dari tribun. Jelas saja Federasi sepakbola Inggris protes dan akhirnya Federasi sepakbola Spanyol pun didenda 44.750 pound.

Melengkapi kasus pelecehan warna kulit ini adalah Samuel Eto'o yang diteriaki pendukung tuan rumah tatkala Barcelona bertandang ke kandang Real Zaragoza, bahkan Eto'o sempat ingin tidak melanjutkan pertandingan.

Tiga kasus ini yang disinyalir mengakibatkan usaha Madrid untuk menjadi tuan rumah Olimpiade 2012 gagal. Mereka harus merelakan hak tersebut kepada London, sebuah harga mahal dari kejadian sepele tapi sangat menyayat hati itu.

Tak disangka kasus rasisme kembali muncul dari arena yang selama ini dianggap kebal sifat itu, F1. Ketika melakukan tes di Sirkuit Catalunya, Hamilton pembalap brilian asal Inggris yang berkulit hitam, "dibuatkan" spanduk yang bukan cuma mengejek, tapi juga sudah mengarah kepada pelecehan.

Bahkan, itu berlanjut di media-media Spanyol dengan tulisan-tulisan yang benar-benar tak bisa diterima akal sehat. Misalnya, maaf, mengilustrasikan Hamilton sebagai "hitam sialan" atau "sebaiknya anda berada dihutan bukan menyetir mobil F1". Keterlaluan, bukan?

Mereka umumnya kecewa karena menganggap selama menjadi teman Hamilton di McLaren, pahlawan mereka, Alonso, diperlakukan tidak fair. Perlakuan itu pula yang membuat Alonso hengkang dari McLaren.

FIA langsung mengancam keberadaan Spanyol bila mereka tak bisa mengendalikan para pendukungnya. Spanyol dan pihak pengelola sirkuit Catalunya langsung bergerak dan menyaring penonton yang akan datang ke trek.
Rasisme jelas harus hilang dari kehidupan apapun, bukan hanya olahraga. Kalau ada seseorang berprestasi, apapun wwarna kulitnya, ya harus dihargai. Beri dia atau mereka tepuk tangan.
Toh yang lebih baik, atau yang terbaik, mempunyai usaha lebih untuk menuju ke sana. Menerima kekalahan haruslah menjadi hal biasa.